Wisata Ziarah ( Perspektif Cak Nun )

Fenomena wisata ziarah sebaiknya dilacak posisinya di tengah kenyataan-kenyataan sejarah masa kini dan masa depan menyangkut dimensi-dimensi berikut ini. Pertama, pola dan arah pencarian makna kemanusiaan yang ditempuh oleh masyarakat-masyarakat dunia melalui filsafat, ideologi, agama, maupun segala jenis kreativitas natural dan kultural. Kedua, aplikasinya dalam sistem-sistem sosial, serta perwajahannya dalam skala kebudayaan dan peradabn. Juga khususnya menyangkut budaya dan “ideologi” pariwisata manusia modern. Ketiga, koordinat (ilmiah)-nya dalam peta teologi, kosmologi, dan filosofi agama (Islam). Keempat, resultan dan komprehensi antara-seluruh faktor tersebut terkait dengan kecenderungan-kecenderungan paling aktual pada era sejarah umat manusia menjelang abad 21.

Wisata ziarah mungkin salah satu penerapan wisata spiritual yang muncul sebagai alternatif wisata kultural baku selama ini. Pada dimensi tertentu, ia mungkin semacam terapi bagi sejumlah kegelisahan dan penyakit ruhaniah manusia budaya modern. Ini karena wisata kultural modern terfokus pada dua faktor yaitu hiburan superfisial dan takhayul masa silam.

Selama ini dunia pariwisata modern sesungguhnya berangkat dari filosofi tentang kreasi dan rekreasi. Filosofi ini lahir dari pemikiran dan anggapan budaya manusia teknologis-industrial. Manusia membagi hari-hari dan jam-jam ke dalam fungsi kreatif atau produktif dan fungsi rekreatif.

Fungsi kreatif memusatkan diri pada mekanisme intelektual menyangkut dunia pemikiran, perenungan, persekolahan, dan kesenian (software peradaban), juga dunia politik, dan aktivitas sosial lain. Sementara fungsi produktif menyibukkan diri pada perangkat-perangkat keras (hardware) dari mekanisme sosial yang berpusat pada ekonomisasi dan ekonomisme: industrialisasi, produk-produk, konsumsi, dan pasar.

Keduanya sangat menyerap energi pikiran, batin, dan fisik manusia. Apalagi ketika peletakan manusia (hanya) sebagai fungsi produktif. Hal itu terbukti telah melahirkan proses dehumanisasi yang dahsyat dan sangat mengeringkan makna kehidupan mereka.

Industrialisasi dan konsumtivisme telah menjadi monster bikinan manusia yang perlahan-lahan memakan diri mereka sendiri. Oleh karena itu, naluri ruhaniah mereka menuntut akalnya agar melahirkan fenomena budaya yang memungkinkan diselenggarakannya arus balik, yakni rehumanisasi. Dialektika kreasi-kreasi harus bias menjadi mekanisme budaya yang menjaga kemanusiaan umat manusia.

Maka, lahirlah cultural tourism. Suatu pelancongan budaya. Pengembaraan kembali ke wilayah-wilayah yang dianggap mengembalikan manusia ke kemanusiaannya. Pada tahap “ilmu” tertentu, kita akan menemukan bahwa tour areas atau daerah tujuan wisata sesungguhnya kosmos batiniah manusia (tourist) itu sendiri. Tempat-tempat rekreasi itu sebenarnya sekadar sarana, kendaraan, atau pintu masuk. Orang-orang, sesudah bekerja keras sebagai onderdil mesin industry, berduyun-duyun mendatangi pantai, pegunungan, benda-benda antik, serta semua yang menggejalakan alam. Bukan untuk alam itu sendiri, melainkan untuk bertemu dengan dirinya (yang terdalam) sendiri.

Dalam kerangka semacam itu, fenomena wisata ziarah sebagai aplikasi wisata spiritual insya Allah merupakan terminal berikut. Terminal ini dikejar manusia di masa depan sesudah terminal wisata kultural yang-notabene, sejauh ini-hanya menyediakan superficial entertainment yang sekuler dan tidak melibatkan dunia batiniah secara mendalam.

Konsep budaya kreasi-kreasi merupakan “ranting-cabang” dari “pohon” ideologi global ala manusia modern bernama sekularisme. Dengan menarik garis batas yang tajam dan total antara agama dan Negara, juga perspektif social budaya yang lebih luas, pemikiran-pemikiran tentang rekreasi tidak mengacu pada sumber-sumber ilmu dan pemahaman, seperti filosofi, kosmologi, teologi, yang dikandung agama.

Maka, pola-pola rekreasi dan kepariwisataan modern sejauhjauhnya hanya merangkum dimensi-dimensi budaya dengan aksentuasi estetika. Ia tidak memasuki, kecuali sekedar menyentuh sekilas, dimensi-dimensi spiritual yang sesungguhnya wilayah paling substantive dari kemanusiaan manusia. Ini parallel dengan psikologi yang hanya mengenal gejala kejiwaan dan bukan jiwa. Bukan sekadar tak menyentuh ilmu-ilmu atau wilayah-wilayah batiniah dan rububiyah, melainkan lebih dari itu “iman” sekularisme sangat mungkin tidak memercayainya.

Ketidaktersentuhan dan ketidakpercayaan dunia sekularisme atas wilayah spiritual kemanusiaan (keilahian) terjadi bukan hanya pada bidang pariwisata. Namun, juga secara gegap gempita tercermin pada mekanisme sosial (kebudayaan dan peradaban) yang lebih menyeluruh. Kita akan menjumpai kenyataan itu ketika melacak dunia politik, perekonomian, batas-batas ideology, manajemen “Negara”, bahkan seni modern. Dunia filosofi manusia modern pun (sebagai perangkat lunak di balik praktis peradaban) berpuncak hanya pada humanisme dan eksistensialisme.

Kalau kita memandang dari perspektif agama (kemanusiaan-keilahian), humanisme itu parallel dengan level insaniah (“insan” = manusia). Di dalam Islam, tingkat ini dianjurkan untuk meningkat ke level ubudiah (“abdullah” = kedudukan sebagai hamba Allah), selanjutnya fungsi khilafah (“khalifah” = wakil, staf, pekerja Allah). Radius semesta antara insaniah dan ubudiah serta khilafah sangat berbeda. Jika diterjemahkan ke dalam fungsi-fungsi sosial budaya juga akan menghasilkan perhitungan, terapan, dan pencapaian yang berbeda pula. Telah gambling di mata kita bahwa kekeringan rohani manusia modern sesungguhnya bersumber pada perspektif filosofisnya. Mereka membatasi diri pada ego insaniah, tanpa membuka mata untuk hal lebih luas, lebih proporsional, dan historis (bukankah manusia tidak ilmiah jika ia menganggap lahir dari, karena, dan untuk dirinya sendiri, juga mengingkari historisitas-natural sumber yang disebut Allah?)

Dalam perspektif keilahian yang sama, kita temukan bahwa eksistensialisme merupakan semacam gerak anti-tauhid. Dengan eksistensialisme, manusia bergerak menggumpalkan diri ke egosentrisme dirinya sendiri. Ia kemudian mengaplikasikan ke dalam filosofi “karier pribadi”, pemilikan (hanya) pribadi, dan monopoli (dengan segala bentuk budaya politik dan ekonominya). Bahkan, sampai pada filosofi bahwa Mike Tyson tidak pernah menganggap Tuhan punya saham terbesar yang memodali otot dan segala kejayaannya sebagai petinju. Dengan begitu, bukankah Ia berhak memperoleh persentase bayaran bertinju dan Tyson hanya menyalurkan hak Allah itu kepada karib-karib-Nya di bumi, yakni kaum lemah dan fakir miskin?

Hanya dengan mengacu pada filosofi-kosmologi-teologi ilahiah (yang memang akan menjadi pertimbangan mendasar kehidupan manusia abad 21), kita memperoleh ilmu yang tepat, akurat, dan efektif. Ilmu ini untuk menata kembali segala segi peradaban, termasuk bagaimana melahirkan fenomena-fenomena kepariwisataan yang lebih menyehatkan pertumbuhan kemanusiaan.

Di atas telah saya sebut dua faktor yang menjadi sifat utama konsumsi dunia pariwisata modern: hiburan superfisial dan takhayul masa silam.

Manusia memandang air terjun, menghirup udara segar, berselancar di pantai, duduk di pub minum bir dan mendengarkan musik, menikmati segala sesuatu yang membawa rasa-diri ke alam (sehingga perlu juga berjemur telanjang alamiah serta mencopot semua lapisan pakaian budaya bersama gadis panggilan di kamar), juga menonton seni tradisional (sesuatu dari masa silam, ketika manusia pernah memiliki sesuatu, tetapi sekarang hilang, yang tak lain adalah rohani). Semua itu barangkali bisa membuat manusia secara situasional dan sporadis “merasa sehat dalam sakit”. Namun, tidak bisa dijamin bahwa dengan itu kemanusiaan mereka menjadi seimbang, baik dalam skala personal maupun sosial.

Untuk mencapai keseimbangan itu, manusia modern memerlukan jalan turisme atau pelancongan yang bersifat lebih rohaniah. Turisme bisa tak sekedar perjalanan kultural, tetapi juga perjalanan (menuju atau kembali) spiritual. Go traveling artinya gamblang: melakukan perjalanan. Dalam Islam, idiom syar’I, thariq, shirath, dan lain sebagainya sangat mengindikasikan “perjalanan”. Dan, seperti halnya kesadaran para turis, benda-benda dan tempat pariwisata yang didatangi sesungguhnya bukanlah “terminal terakhir” sebab tujuan yang lebih substantif adalah kepuasan batin, kelegaan jiwa, dan kesegaran rohani mereka sendiri.

“Maka, sejalan dengan tren global religiusiasi peradaban umat manusia abad 21, kenapa kita tidak bisa melahirkan alternatif wisata spiritual (wisata ziarah).”

Ini bisa dengan memberi sifat baru pada tempat-tempat pariwisata baku yang selama ini telah diaktualisasi dengan menguak pintu spiritualnya. Potensi-potensi turistik kita tidak disubordinasikan pada kerangka budaya sekuler para turis, tetapi juga coba memancing apresiasi mereka untuk lebih berkenalan dengan substansi spiritual. Strategi kepariwisataan kita bukan hanya memaketkan khasanah budaya bangsa berdasarkan kehendak pasar, melainkan juga mengeksperimentasikan penawaran substansi pasar baru, yakni membuka cakrawala spiritual.

Atau, membukan wilayah-wilayah baru: masjid dan pesantren tidak dietalasekan qua-arsitektur atau sekedar sebagai barang antik, tetapi juga “bernegosiasi” dalam mengintroduksi kandungan-kandungan spiritualitas. Semua potensi wisata spiritual pun demikian. Saat kita siap bukan hanya sebagai “pelacur yang menjajakan diri”, melainkan sebagai partner dialog dan sahabat dalam bersilaturahmi dengan nila-nilai agama-kebudayaan dan kebudayaan-agama. Untuk itu, kita memerlukan buku-buku panduan yang berbeda. Juga dibutuhkan pemandu-pemandu wisata yang bukan hanya bisa menjelaskan berapa level Candi Borobudur serta di mana desa penjual keramik; melainkan pemandu yang memiliki ilmu dan kesanggupan komunikasi di hadapan manusia produk peradaban sekuler abad 20.

Dari prinsip-prinsip itu, kita bisa memproyeksikan secara lebih detail dalam modus-modus teknisnya.

.

.

By : Kabilah Tour Mudah, Aman & Berkah

Mudah Aman dan Berkah

KABILAH TOUR adalah Perusahaan yang telah memiliki legalitas PT (Perseroan Terbatas ) yang bergerak di bidang jasa Biro Perjalanan Wisata.Melayani promo paket umroh yang Mudah, Aman Dan Berkah hub: 022-5233562 / 081290007941, Jalan Leuwipanjang No.32B Kota Bandung 40234 kunjungi:http://www.kabilahtour.co.id